Sabtu, 17 Juni 2017

Sungguh Pilu!!! Kisah Kakek Hidup di Tengah Sawah, Pilih Menyendiri karena Sering Diguyur Air Anaknya

Sungguh Pilu!!! Kisah Kakek Hidup di Tengah Sawah, Pilih Menyendiri karena Sering Diguyur Air Anaknya

000
0000

Kondisi kehidupan dan keadaan ekonomi pas-pasan memaksa Ahmad Muchsin untuk “keluar” dari rumahnya. Dia memilih hidup di gubuk tak layak di tengah persawahan Dusun Monggang, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong. Hidupnya bergantung pada hasil jualan rongsokan dan belas kasihan orang yang miris melihat kehidupannya.

TANGAN lelaki keriput berusia 86 tahun itu basah kuyup oleh air saluran irigasi di depan rumahnya yang berupa gubuk berukuran sekira 5 x 7 meter persegi. Kakek bercucu tiga ini langsung menyapa dan menyalami Tribunjogja.com yang menyambangi gubuk tempat tinggalnya itu, Kamis (10/11/2016). Tinggal di sebuah gubuk kecil beratapkan asbes dan seng bukan menjadi cita-cita kakek bernama Ahmad ini. Kondisi dan perjalanan hidup yang memilukan membuatnya meninggalkan kediamannya.

Ahmad mengaku lebih nyaman tinggal di gubuk yang hanya berdinding terpal, namun asri dan segar karena angin sawah. Dia bisa melihat alam sekitar tanpa ada tembok pemisah antara tetangga dan saudara. Ahmad bercerita, dia terpaksa meninggalkan rumah yang dihuninya selama puluhan tahun di Dusun Grudo, Desa Panjangrejo, Kecamatan Pundong itu karena kondisi ekonomi.

Ahmad akhirnya “mengungsi” ke gubuk buatannya itu bersama istrinya, Suparmi (50), setelah tidak tahan berada di rumah. “Saya tinggal di gubuk ini tepat saat Idul Adha lalu,” katanya mengenang. Jika biasanya Ahmad bersama istrinya menikmati suara tetangga, radio, televisi, kini mereka hanya mendengar suara katak, jangkrik, dan binatang lainnya di sawah. Di gubuk itulah, kata Ahmad, dia terbiasa melamun dan merenungkan hidupnya yang penuh liku.

Di usianya yang semakin senja, Ahmad harus merasakan hawa dingin dan gigitan nyamuk karena gubuk itu tak layak bagi orang seusianya. Untuk tempat tidur dia hanya menggunakan dipan bambu yang keras. Bahkan, untuk makan pun dia harus mendapat belas kasihan dari tetangga. Selain itu, dia menggantungkan hidup dari hasil penjualan barang rongsokan yang tak menentu. Sementara, untuk mandi, dia terbiasa mandi di dekat kandang sapi milik warga sekitar, jika tidak mandi di makam. “Tadi ada yang membawa arem-arem dan telur. Lumayan untuk makan anak dan istri saya,” jelasnya.

Sebelum memutuskan tinggal di gubuk, Ahmad mengaku banyak mengalami kejatuhan dalam hidupnya.

Anak semata wayangnya, Yono, kerap menjual barang-barang berharga miliknya, berupa motor, sepeda, hingga perabotan lainnya. Uang mantan buruh bangunan ini pun ludes karena perbuatan anaknya ini. Belum lagi, kondisi keluarga Yono yang dikaruniai tiga anak ini juga berantakan. Yono akhirnya berpisah dari istri dan anak-anaknya.

Kondisi itu, kata Ahmad, ternyata membuat anaknya depresi. Yono akhirnya memutuskan pulang ke rumah orang tuanya. Namun, bukan usaha atau bekerja untuk menyambung hidup yang dilakukan oleh Yono, dia malahan kerap bersikap kasar pada orang tuanya. Kepada Ahmad bahkan Yono kerap mengguyur air. Ahmad pun tak habis pikir dengan kelakuan sehari-hari anaknya itu.

“Saya setiap hari diguyur air, padahal kondisi saya sudah tua. Sehingga, saya sudah tidak betah lagi berada di rumah. Belum lagi, rumah saya itu terjepit, tidak ada akses jalan keluar karena semua sudah dikelilingi tembok,” ujar Ahmad.

Kemiskinan yang dialami Ahmad dan keluarganya menjadikan bahan perbincangan hangat di kalangan warga. Ahmad dan keluarganya pun merasa dicurigai oleh tetangga sekitarnya jika ada ayam dan ternak lainnya hilang. “Saya itu orang miskin, makanya saya sering dicurigai dan diinjak-injak oleh orang lain. Saya tidak betah dengan kondisi ini, sehingga saya menyepi saja di gubuk lebih tenang,” katanya.

Ahmad pun sempat mengungkapkan, jauh sebelum berbagai persoalan hidup menerpanya, dia sempat merasakan memiliki banyak harta berupa tanah, ternak dan uang. Upahnya sebagai buruh bangunan membuatnya bisa menikmati hidup tanpa beban. Hanya saja, roda kehidupan berputar, Ahmad yang biasanya bisa makan enak harus dihadapkan dengan beragam persoalan. Seperti memiliki anak yang depresi karena keluarga berantakan. Saudaranya pun acuh pada kehidupannya.

“Di gubuk ini saya merasa aman, saya bisa mendengar suara alam. Di sini saya salat rutin, sebagai bentuk pertobatan saya pada Allah,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Kepala Dusun Grudo, Sukirdal membenarkan jika kakek yang tinggal di gubuk itu adalah Ahmad Muchsin. Menurutnya, dia sudah melaporkan ke desa mengenai kondisi kakek yang memilih untuk tinggal di gubuk sawah itu.

Sukirdal mengakui jika Ahmad akhirnya memutuskan untuk hidup di gubuk lantaran kondisi ekonomi. Menurutnya, kondisi Ahmad yang memang bukan orang mampu itu membuatnya lebih aman untuk mengasingkan diri. “Apalagi, di rumahnya, dia tidak punya jalan untuk keluar karena sudah ditutup aksesnya oleh saudaranya. Hanya ada jalan selebar satu meter saja, itupun bukan milik Ahmad. Hubungan keluarganya kurang harmonis,” katanya.

Pihaknya pun pernah mencarikan panti jompo agar Ahmad dirawat dengan layak di tempat penampungan itu. Hanya saja, Ahmad tidak mau dan tetap akan hidup tanpa harus mendapat perawatan di panti jompo. “Apalagi anaknya juga kurang bisa merawat karena keterbatasan. Semoga, nanti ada titik terang agar dia tidak terlantar,” ulasnya.

Realita hidup tidak selalu indah. Jadi kepedulian serta tolereansi terhadap sesama harus tetap dipertahankan.

Sumber : http://jogja.tribunnews.com

0000

Related Posts

Sungguh Pilu!!! Kisah Kakek Hidup di Tengah Sawah, Pilih Menyendiri karena Sering Diguyur Air Anaknya
4/ 5
Oleh